AKRONIM DALAM RANAH ANAK MUDA PADA KOMUNIKASI LISAN DI CAFE KOTA PEKALONGAN
Abstract
Pada awalnya pembuatan akronim dominan dilakukan oleh orang-orang atau lembaga yang memiliki pengaruh di masyarakat. Pembentukan akronim harus memerhatikan kesesuaian dengan kaidah fonotaktik bahasa yang bersangkutan. Permasalahan dalam tulisan ini adalah Bagaimana bentuk, pola pembentukan dan perubahan makna pada akronim dalam ranah anak muda pada komunikasi lisan di Cafe Kota Pekalongan dan implikasinya pada pembelajaran bahasa Indonesia di SMA Kelas XI. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif menggunakan metode deskriptif. Metode deskriptif yang digunakan dari data yang berupa akronim dalam ranah anak muda pada komunikasi lisan di Cafe Kota Pekalongan yang dicatat dengan teliti dan dicermati. Hasil analisis disimpulkan: Sebagai besar bentuk akronim yang digunakan dalam dalam ranah anak muda pada komunikasi lisan di Cafe Kota Pekalongan menggunakan bentuk Akronim bukan nama diri yang berupa singkatan dari dua kata atau lebih ditulis dengan huruf kecil. Pola pembentukan pengekalan tiga huruf pertama tiap komponen dan pengekalan dua huruf pertama komponen pertama dan ketiga serta pengekalan tiga huruf pertama komponen kedua masing-masing. Perubahan makna akronim menggunakan perubahan makna Apokop. Akronim dalam ranah anak muda pada komunikasi lisan di Cafe Kota Pekalongan cenderung dilakukan hanya dengan sesuka si pengguna yang kemudian menjadi sebuah kesepakatan oleh sekelompok orang tertentu untuk digunakan dalam berkomunikasi. Implikasi hasil analisis dengan pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMA Kelas XI Penggunaan akronim memiliki pengaruh kuat terhadap kaidah struktur bahasa, umumnya dalam hal bertutur kata.
