PENGUKURAN DAYA HIDUP DIGLOSIA RAGAM INDUSTRI DI KAWASAN INDUSTRI SAYUNG GUNA MENDUKUNG PROJECT-BASED LEARNING D-III TEKNIK MESIN KAMPUS DEMAK
Abstract
Penelitian ini mengeksplorasi fenomena diglosia dalam kawasan industri Sayung, Demak, Jawa Tengah, Indonesia, serta integrasinya ke dalam Pembelajaran Berbasis Proyek (PjBL) untuk pendidikan vokasi tinggi. Diglosia, yang diperkenalkan oleh Charles Ferguson pada tahun 1959, merujuk pada koeksistensi dua varietas bahasa: varietas "tinggi" yang digunakan dalam konteks formal dan varietas "rendah" yang digunakan dalam konteks informal. Dalam lingkungan multibahasa kawasan industri Sayung, penelitian ini meneliti bagaimana komunikasi efektif dapat difasilitasi dengan menavigasi antara varietas bahasa ini. Lokasi strategis kawasan industri Sayung dan beragam sektornya menciptakan lingkungan multikultural yang unik di mana diglosia menonjol. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur keberlangsungan diglosia di kawasan ini dan merancang PjBL untuk mata kuliah Manajemen Perusahaan, Bahasa Inggris Teknik, dan Pancasila & Pendidikan Kewarganegaraan di Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) Kampus Demak. Dengan menggunakan metode kualitatif termasuk observasi, wawancara, dan analisis konten, penelitian ini menganalisis praktik linguistik dan dampak diglosia terhadap komunikasi dan kolaborasi. Temuan penelitian ini menyoroti pentingnya fleksibilitas dalam norma komunikasi untuk memanfaatkan potensi penuh dari keberagaman bahasa dan budaya di tempat kerja, mendorong pertukaran ide dan inovasi. Penelitian ini juga merumuskan pengembangan kurikulum yang mengintegrasikan pengetahuan teoretis dan praktis, sesuai dengan kebutuhan industri dan mendukung pengembangan berkelanjutan pendidikan vokasi.
