POPULAR CULTURE AND FREE THINKING IN EDUCATION: THE CASE OF AADC AND LASKAR PELANGI
Abstract
Abstract
This study explores the representation of free thinking within Indonesia’s post-reformation educational discourse through an interpretive analysis of two landmark Indonesian films: Ada Apa Dengan Cinta? (2002) and Laskar Pelangi (2008). Employing a qualitative methodology grounded in cultural studies and thematic analysis, the research investigates how characters, settings, dialogues, and symbolic elements serve as vehicles for conveying critical thinking values and educational resistance. The analysis is conducted across two interpretive layers—denotative (literal) and connotative (ideological)—to trace both surface-level representations and deeper cultural meanings embedded in the films. Drawing on theoretical frameworks from Stuart Hall’s theory of representation, Paulo Freire’s concept of critical pedagogy, and Raymond Williams’ notion of lived culture, the study reveals how AADC emphasizes personal emancipation through self-reflection, literary consciousness, and emotional courage, while Laskar Pelangi highlights collective resilience, access to education, and the moral urgency of learning in marginalized contexts.
Findings suggest that free thinking is portrayed as an active and evolving process that involves intellectual courage, critical dialogue, and resistance to normative constraints—whether social, institutional, or economic. Both films function as informal educational texts that challenge dominant pedagogical models and promote alternative visions of learning. These insights underscore the pedagogical potential of integrating popular culture into curriculum design to foster critical awareness, emotional engagement, and socially responsive education.
Abstrak
Penelitian ini mengkaji representasi pemikiran bebas dalam wacana pendidikan Indonesia pasca-reformasi melalui analisis interpretatif terhadap dua film Indonesia yang berpengaruh: Ada Apa Dengan Cinta? (2002) dan Laskar Pelangi (2008). Dengan menggunakan metode kualitatif berbasis studi budaya dan analisis tematik, penelitian ini mengeksplorasi bagaimana elemen naratif—seperti karakter, setting, dialog, dan simbolisme—digunakan untuk menyampaikan nilai-nilai berpikir kritis dan resistensi terhadap dominasi pendidikan konvensional. Analisis dilakukan dalam dua lapisan pemaknaan, yakni denotatif (harfiah) dan konotatif (ideologis), untuk melacak representasi permukaan sekaligus makna budaya yang lebih dalam. Dengan merujuk pada kerangka teori representasi Stuart Hall, pedagogi kritis Paulo Freire, dan konsep budaya hidup dari Raymond Williams, penelitian ini menunjukkan bahwa AADC menyoroti emansipasi individu melalui refleksi diri, keberanian emosional, dan kesadaran literer, sementara Laskar Pelangi menekankan perjuangan kolektif, akses pendidikan, dan urgensi moral dalam konteks marginalisasi struktural.
Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa pemikiran bebas direpresentasikan sebagai proses aktif dan dinamis yang memerlukan keberanian intelektual, dialog kritis, dan perlawanan terhadap norma sosial maupun institusional. Kedua film berfungsi sebagai teks pendidikan informal yang menantang model pedagogi dominan dan menawarkan visi alternatif tentang pembelajaran. Temuan ini menegaskan potensi pedagogis budaya populer untuk diintegrasikan ke dalam kurikulum demi membangun kesadaran kritis, keterlibatan emosional, dan pendidikan yang responsif secara sosial.
